Pembelajran Behavioristik


RINGKASAN MODEL PEMBELAJARAN BEHAVIORISME

 

Good et. al.(1990) menganggap Behaviorisme atau Tingkah laku ini dapat diperhatikan dan diukur. Prinsip utama bagi teori ini ialah faktor rangsangan (stimulus),  Respon  (response) serta penguatan (reinforcement). Teori ini menganggap faktor lingkungan sebagai rangsangan dan  respon peserta didik terhadap rangsangan itu ialah responsnya. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Thorndike (2001) yang menyatakan bahwa hubungan di antara stimulus dan  respon akan diperkuat apabila responnya positif diberikan reward yang positif dan tingkah laku nagatif tidak diberi apa-apa (hukuman). Ringkasnya, dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

RANGSANGAN  (stimulus) ————>  RESPON
(response)
————> PENGUATAN  (reinforcement)

Gambar 1: Model belajar Behaviorisme

Sebagai contoh, seseorang peserta didik diberikan ganjaran positif setelah dia menunjukkan respon positif. Dia akan mengulangi respon tersebut setiap kali rangsangan yang serupa ditemui. Hal demikian akan diperoleh dalam pengajaran guru dengan adanya latihan dan ganjaran terhadap sesuatu latihan. Penguatan (reinforcement) yang terbina akan memberi rangsangan supaya belajar lebih bersemangat dan bermotivasi tinggi. Peserta didik yang berprestasi memperoleh pengetahuan yang mereka inginkan dalam sesuatu sesi pembelajaran, dapat dikatakan mendapat response positif. Oleh karena itu, mereka akan terus semangat untuk  mencoba dan menerka ilmu yang terdapat dalam peserta didikan tersebut secara sendiri setalah proses pembelajaran.
Gagne et.al. (1992) dalam behaviorisme, terdapat delapan elemen  yang harus dilakukan guru dalam proses pembelajaran di sekolah, yaitu:

1) menarik perhatian, 

2) menjelaskan tujuan,

3) Merangsang proses “recall”,

4) Menyiapkan bahan atau materi yang dapat merangsang/menarik perhatian peserta didik,

5) Menyediakan bimbingan terhadap peserta didik,

6) Memberi penghargaan terhadap kemajuan peserta didik berdasarkan tugas dan  latihan, 

7) Menilai kemajuan belajar peserat didik, dan

8) Mengembangkan pengetahuan dan kepandaian yang telah dimiliki peserta didik.
Penerapan  behavioristik  dalam pembelajaran

Model Belajar Karakteristik Teori Langkah Penerapan Dalam pembelajaran
Belajar behavioristik (tingkah laku) Belajar adalah perubahan tingkahlaku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu bila ia mampu menunjukkan perubahan tingkahlaku. Pada teori ini yang terpenting adalah ma-sukkan yang berupa stimulus dan ke-luaran  yang berupa respons.  

Adapun apa yang telah terjadi diantara stimulus dan respons itu dianggap tak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Yang bisa diamati hanyalah stimulus dan respons

1.  Menentukan tujuan-tujuan Instruksional

2.  Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasikan “entry behavior” peserta didik (pengetahuan awal peserta didik)

3.  Menentukan materi pelajaran (pokok bahasan)

4.  Memecah materi pelajaran menjadi bagian-bagian kecil (sub pokok bahasan, sub topik)

5.  Menyajikan materi pelajaran

6.  Memberikan stimulus yang mungkin berupa : pertanyaan (lisan/tertulis) tes, latihan dan tugas-tugas

7.  Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan

8.  Memberikan penguatan / reinforcment positip atau negatif

9.  Memeberikan stimulus baru

  1. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan
  2. Memberikan penguatan

 

Pengembangan model pembelajaran yang menganut teori behaviorisme.

Sesuai dengan pilosofis yang dianut oleh para ahli behavioris tentang belajar, yaitu perubahan perilaku yang dapat diukur, maka dalam pengembangan model pembelajaran harus diarahkan pada proses penciptaan perilaku baru yang dapat diukur. Menurut pilosofis behaviorist, belajar terjadi berdasarkan pola berfikir deduktif, dan siswa belajar secara individu (individual learning). Selain itu, dalam proses pemelajarannya lebih terfokus pada guru (teacher centered).

Model pembelajaran yang dapat dikembangkan diantaranya adalah model pembelajaran mastery, model pembelajaran langsung, model pembelajaran simulasi, model pembelajaran sosial, dan model pembelajaran berprogram. Setiap model tersebut dapat dikembangkan dengan berbagai pendekatan dan strategi. Pendekatan dan strategi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

MODEL BELAJAR KARAKTERISTIK PENDEKATAN STRATEGI TAKTIS
Behaviorisme 1. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku yang dapat diukur.

2. Siswa belajar secara indi-vidu dengan pola deduktif.

3. Ekstrinsik motivasi, sehing-ga perlu stimulus, dan guru melakukanpenguatan.

4. Siswa pasif (penerima), dan tergantung pada guru.

5. pembelajaran terpusat pada guru.

Mastery  Inquiry Free Inquiry
Structured laboratory inquiry
Model inquiry Such-man 
Theme-based model: pupil centered, “multi disciplinary free in-quiry”
Discovery  
Contextual  
Langsung Interactive  
Tidak langsung    
Sosial    
Simulasi    
    Berprogram    

 

2 Tanggapan

  1. artikelnya bgus…
    sngat bermanfaat,,,

    kembangkan yh…!!!

    • matursuwun perhatiannya,,,, InsyaAllah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: