Kependidikan


PERMASALAHAN PEMBELAJARAN  dengan SOLUSI MODEL PEMBELAJARAN 

  1. Peran pengajar sebagai transmiter  menjadi  fasilitator, pembimbing dan konsultan,
  2. Peran pengajar sebagai sumber pengetauan menjadi kawan belajar,
  3. Belajar dijadwal secara ketat menjadi terbuka, fleksibel sesuai keperluan,
  4. Dari belajar berdasararkan fakta menuju berbasis masalah dan proyek,
  5. Dari   kebiasaan pengulangan dan latihan menuju perancangan dan penyelidikan,
  6. Taat  aturan dan prosedur menjadi penemuan dan penciptaan,
  7. Dari kompetitif menuju   kolaboratif,
  8. Belajar mengikuti norma menjadi keanekaragaman yang kreatif
  9. Dari penggunaan komputer sebagai obyek  belajar menuju penggunaan komputer sebagai alat belajar,

10.  Dari presentasi media  statis menuju interaksi multimedia yang dinamis,

11.  Dari penilaian hasil belajar secara    normatif menuju pengukuran unjuk kerja yang komprehensif.

Adapun solusi dari permasalahan pembelajaran tersebut berimplikasi pada penetapan tatanan tertentu dalam mengkonstruksi teori pembelajaran. Tatanan tertentu yang menjadi focus teori pembelajaran mendasarkan diri pada hakikat tuntutan perkembangan iptek.

Beberapa kecenderungan tersebut, antara lain:

  1. penempatan empat pilar pendidikan UNESCO: learning to know, leraning to do, learning to be, dan leraning to life together sebagai paradigma pembelajaran,
  2. kecenderungan bergesernya orientasi pembelajaran teacher centered menuju student centered,
  3. 3.      kecenderungan pergeseran dari contentbased curriculum menuju competency-based curriculum,
  4. perubahan teori pembelajaran dari model behavioristik menuju model konstruktivistik,
  5. perubahan  pendekatan teoretik menuju kontekstual,
  6. perubahan paradigma pembelajaran dari standardization menjadi customization.

Aktivitas-aktivitas tersebut menuntut model pembelajaran yang hendaknya didesain berdasarkan paradigma yang cenderung konstruktivistik.

Solusi Pembelajaran menurut Konstruktivistik

Konstruktivistik tentang pembelajaran merupakan alternatif yang muncul sebagai akibat terjadinya revolusi ilmiah dari sistem pembelajaran yang cenderung berlaku pada abad industri ke sistem pembelajaran yang semestinya berlaku pada abad pengetahuan sekarang ini.

Menurut  teori konstruktivistik, ilmu pengetahuan bersifat sementara terkait dengan perkembangan yang dimediasi baik secara sosial maupun kultural, sehingga cenderung bersifat subyektif. Belajar menurut pandangan ini lebih sebagai proses regulasi diri dalam menyelesikan konflik kognitif yang sering muncul melalui pengalaman konkrit, wacana kolaboratif, dan interpretasi. Belajar adalah kegiatan aktif pebelajar untuk membangun pengetahuannya. Pebelajar sendiri yang bertanggung jawab atas peristiwa belajar dan hasil belajarnya. Pebelajar sendiri yang melakukan penalaran melalui seleksi dan organisasi pengalaman serta mengintegrasikannya dengan apa yang telah diketahui. Belajar merupakan proses negosiasi makna berdasarkan pengertian yang dibangun secara personal. Belajar bermakna terjadi melalui refleksi, resolusi konflik kognitif, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, yang semuanya ditujukan untuk memperbaharui tingkat pemikiran individu sehingga menjadi semakin sempurna.

konstruktivistik merupakan basis reformasi pendidikan saat ini.

Menurut teori konstruktivistik, pembelajaran lebih mengutamakan pemecahan masalah, mengembangkan konsep, konstruksi solusi dan algoritma ketimbang menghafal prosedur dan menggunakannya untuk memperoleh satu jawaban benar. Pembelajaran lebih dicirikan oleh aktivitas eksperimentasi, pertanyaan-pertanyaan, investigasi, hipotesis, dan model-model yang dibangkitkan oleh pebelajar sendiri.

Secara umum, terdapat lima prinsip dasar yang melandasi kelas konstruktivistik (Brooks & Brooks, 1993), yaitu:

 (1) meletakkan permasalahan yang relevan dengan kebutuhan pebelajar,

(2) menyusun pembelajaran di sekitar konsep-konsep utama,

(3) menghargai pandangan pebelajar,           

(4) materi pembelajaran menyesuaikan terhadap kebutuhan pebelajar,

(5) menilai pembelajaran secara kontekstual.

Hal yang lebih penting, bagaimana pengajar mendorong dan menerima otonomi pebelajar, investigasi bertolak dari data mentah dan sumber-sumber primer (bukan hanya buku teks), menghargai pikiran pebelajar, dialog, pencarian, dan teka-teki sebagaipengarah pembelajaran.

Seirama dengan kesesuaian penerapan paradigma desain pembelajaran, tidak terlepas pula dalam penetapan tujuan belajar yang disasar dan hasil belajar yang diharapkan.

Tujuan belajar menurut konstruktivistik mendasarkan diri pada tiga

fokus belajar, yaitu:

(1) proses,  yaitu mendasarkan diri pada nilai sebagai dasar untuk mempersepsi apa yang terjadi apabila pebelajar diasumsikan belajar. Nilai tersebut didasari oleh asumsi, bahwa dalam belajar, sesungguhnya pebelajar berkembang secara alamiah. Oleh sebab itu, paradigma pembelajaran hendaknya mengembalikan pebelajar ke fitrahnya sebagai manusia dibandingkan hanya menganggap mereka belajar hanya dari apa yang dipresentasikan oleh pengajar. Implikasi nilai tersebut melahirkan komitmen untuk beralih dari konsep pendidikan berpusat pada kurikulum menuju pendidikan berpusat pada pebelajar. Dalam pendidikan berpusat pada pebelajar, tujuan belajar lebih berfokus pada upaya bagaimana membantu para pebelajar melakaukan revolusi kognitif. Model pembelajaran perubahan konseptual (Santyasa, 2002) merupakan alternatif strategi pencapaian tujuan pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang fokus pada proses pembelajaran adalah suatu nilai utama pendekatan konstruktivstik.

(2) tranfer belajar, yaitu mendasarkan diri pada premis “pebelajar

dapat menggunakan dibandingkan hanya dapat mengingat apa yang dipelajari”. Satu nilai

yang dapat dipetik dari premis tersebut, bahwa meaningful learning harus diyakini

memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan rote learning, dan deep

understanding lebih baik dibandingkan senseless memorization. Konsep belajar

bermakna sesungguhnya telah dikenal sejak munculnya psikologi Gestal dengan salah

satu pelopornya Wertheimer (dalam Mayer, 1999). Sebagai tanda pemahaman mendalam

adalah kemampuan mentransfer apa yang dipelajari ke dalam situasi baru.

(3) bagaimana belajar.

 (how to learn) memiliki nilai yang lebih penting dibandingkan dengan apa yang dipelajari (what to learn). Alternatif pencapaian learning how to learn, adalah dengan memberdayakan keterampilan berpikir pebelajar. Dalam hal ini, diperlukan fasilitas belajar untuk ketarampilan berpikir. Belajar berbasis keterampilan berpikir (Santyasa, 2003b) dan model problem solving dan reasoning merupakan dua alternatif fasilitas belajar untuk mencapai tujuan learning how to learn.

Desain pembelajaran yang konsisten dengan tujuan belajar yang disasar tersebut tentunya diupayakan pula untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Paradigma tentang hasil belajar yang berasal dari tujuan belajar kekinian tersebut hendaknya bergeser dari no learning dan rote learning menuju constructivistic learning.

No learning, miskin dengan retensi, transfer, dan hasil belajar. Pebelajar tidak menyediakan perhatian terhadap informasi relevan yang diterimanya. Rote learning, hanya mampu mengingat informasi-informasi penting dari pelajaran, tetapi tidak bisa menampilkan unjuk kerja dalam menerapkan informasi tersebut dalam memecahkan masalah-masalah baru. Pebelajar hanya mampu menambah informasi dalam memori.

Constructivist learning dapat menampilkan unjuk kerja retensi dan transfer. Pebelajar mencoba membuat gagasan tentang informasi yang diterima, mencoba mengembangkan model mental dengan mengaitkan hubungan sebab akibat, dan menggunakan prosesproses kognitif dalam belajar. Proses-proses kognitif utama meliputi penyediaan perhatian terhadap informasi-informasi yang relevan dengan selecting, mengorganisasi infromasi-informasi tersebut dalam representasi yang koheren melalui proses organizing, dan mengintegrasikan representasi-representasi tersebut dengan pengetahuan yang telah ada di benaknya melalui proses integrating. Hasil-hasil belajar tersebut secara teoretik menjamin pebelajar untuk memperoleh keterampilan penerapan pengetahuan secara bermakna.

Dalam mengimplementasikan pembelajaran konstruktivistik, perlu dicermati pula tentang reposisi pengajar. Menurut hasil forum Carnegie tentang pendidikan dan ekonomi (Arend et al., 2001), di abad informasi ini terdapat sejumlah kemampuan yang harus dimiliki oleh pengajar dalam pembelajaran. Kemampuan-kemampuan tersebut, adalah memiliki pemahaman yang baik tentang kerja baik fisik maupun sosial, memiliki rasa dan kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data, memiliki kemampuan membantu pemahaman pebelajar, memiliki kemampuan mempercepat kreativitas sejati pebelajar, dan memiliki kemampuan kerja sama dengan orang lain. Para pengajar diharapkan dapat belajar sepanjang hayat seirama dengan pengetahuan yang mereka perlukan untuk mendukung pekerjaannya serta menghadapi tantangan dan kemajuan sains dan teknologi. Pengajar tidak diharuskan memiliki semua pengetahuan, tetapi hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup sesuai dengan yang mereka perlukan, di mana memperolehnya, dan bagaimana memaknainya. Para pengajar diharapkan bertindak atas dasar berpikir yang mendalam, bertindak independen dan kolaboratif satu sama lain, dan siap

menyumbangkan pertimbangan-pertimbangan kritis. Para pengajar diharapkan menjadi masyarakat memiliki pengetahuan yang luas dan pemahaman yang mendalam. Di samping penguasaan materi, pengajar juga dituntut memiliki keragaman model atau strategi pembelajaran, karena tidak ada satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan belajar dari topik-topik yang beragam.

Konsep pembelajaran menurut konstruktivistik meletakkan landasan yang meyakinkan bahwa peranan pengajar tidak lebih dari sebagai fasilitator, suatu posisi yang berbeda dengan pandangan tradisional. Tugas sebagai fasilitator relatif lebih berat dibandingkan hanya sebagai transmiter pembelajaran. Pengajar sebagai fasilitator akan memiliki konsekuensi langsung sebagai perancah, model, pelatih, dan pembimbing.

Di samping sebagai fasilitator, secara lebih spesifik peranan pengajar dalam

pembelajaran adalah sebagai:

  1.  expert learners, pengajar diharapkan memiliki pemahaman mendalam

tentang materi pembelajaran, menyediakan waktu yang cukup untuk pebelajar,

menyediakan masalah dan alternatif solusi, memonitor proses belajar dan pembelajaran,

merubah strategi ketika pebelajar sulit mencapai tujuan, berusaha mencapai tujuan

kognitif, metakognitif, afektif, dan psikomotor pebelajar.

  1. manager, pengajar berkewajiban memonitor hasil belajar para pebelajar

dan masalah-masalah yang dihadapi mereka, memonitor disiplin kelas dan hubungan

interpersonal, dan memonitor ketepatan penggunaan waktu dalam menyelesaikan tugas.

Dalam hal ini, pengajar berperan sebagai expert teacher yang memberi keputusan

mengenai isi, menseleksi proses-proses kognitif untuk mengaktifkan pengetahuan awal

dan pengelompokan pebelajar.

  1. mediator. pengajar memandu mengetengahi antar pebelajar, membantu

para pebelajar memformulasikan pertanyaan atau mengkonstruksi representasi visual dari

suatu masalah, memandu para pebelajar mengembangkan sikap positif terhadap belajar,

pemusatan perhatian, mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal, dan

menjelaskan bagaimana mengaitkan gagasan-gagasan para pebelajar, pemodelan proses berpikir dengan menunjukkan kepada pebelajar ikut berpikir kritis.

Perubahan tersebut merekomendasikan model problem solving dan reasoning sebagai alternatif pembelajaran yang konstruktif. Model problem solving dan reasoning yang merupakan teori preskriptif tersebut dibangun oleh konsep-konsep: problem, problem solving, dan reasoning.

Problem adalah suatu situasi yang tak jelas jalan pemecahannya yang mengkonfrontasikan

individu atau kelompok untuk menemukan jawaban.

 Problem solving adalah upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi tuntutan situasi yang tak lumrah (Krulik & Rudnick, 1996).

 Jadi aktivitas problem solving diawali dengan konfrontasi dan berakhir apabila sebuah jawaban telah diperoleh sesuai dengan kondisi masalah. Aktivitas problem solving terkait erat dengan aktivitas pengambilan keputusan dan scientific inquiry.

Model problem solving dan reasoning dapat dilaksanakan dengan lima langkah

pembelajaran, yaitu:

  1. membaca dan berpikir
  2. mengeksplorasi dan merencanakan pemecahan,
  3. menseleksi strategi pemecahan,
  4. menemukan jawaban, dan
  5. refleksi  dan perluasan terhadap hasil pemecahan.

 

Problem solving merupakan salah satu kompetensi seseorang yang cukup penting sebagai prasyarat baginya untuk bisa hidup. Esensi kehidupan sehari-hari adalah situasi pemecahan masalah. Van Dijk dan Kintsch (dalam Santyasa, 2003) menyatakan bahwa pemecahan masalah terjadi apabila suatu tujuan memerlukan operasi mental tertentu. Pembelajaran pemecahan masalah secara konvensional umumnya menekankan well-structured problem, yang dipresentasikan secara jelas dengan semua informasi yang diperlukan dan dengan algoritma yang tepat untuk memperoleh jawaban benar. Sesungguhnya, masalah dunia nyata sebagian besar adalah tidak jelas (fuzzy) dan ill-structured. Oleh sebab itu, pemecahan masalah hendaknya ditujukan pada ill-defined problem.

Cyert dalam Frederiksen (dalam Santyasa, 2003b) menganjurkan 10 strategi

heuristik pembelajaran pemecahan masalah:

  1. deskripsikan masalah total secara detail,
  2. berikan pertimbangan, jangan mendahului menjawab,
  3. ciptakan model untuk menyederhanakan masalah menggunakan kata-kata, gambar, simbul, atau pertanyaan,
  4. cobalah ubah representasi masalah tersebut,
  5. ajukan pertanyaan-pertanyaan verbal yang bervariasi,
  6. jadikan pertanyaan fleksibel dari premis-premis anda,
  7. cobalah bekerja terbalik,
  8. teruskan hingga memungkinkan anda kembali ke penyelesaian parsial anda,
  9. gunakan analogi dan metapora, dan

10.  berbincanglah lebih banyak mengenai masalah tersebut.

 Reasoning merupakan aktivitas atau proses-proses berpikir. Proses berpikir merupakan seperangkat operasi mental, yang meliputi: pembentukan konsep, npembentukan prinsip, pemahaman, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian. Proses-proses tersebut pada umumnya saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Proses-proses pembentukan konsep, pembentukan prinsip, dan pemahaman merupakan proses-proses pengkonstruksian pengetahuan. Proses-proses pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian merupakan aplikasi konsep, prinsip, dan pemahaman. Reasoning merupakan bagian berpikir yang berada di atas level retention atau recall (retensi atau memanggil). Reasoning meliputi: basic thinking, critical thinking, dan creative thinking. Keterampilan retention thinking merupakan tingkatan berpikir yang paling rendah. Reasoning merupakan aktivitas atau proses-proses berpikir. Proses berpikir merupakan seperangkat operasi mental, yang meliputi: pembentukan konsep, pembentukan prinsip, pemahaman, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian. Proses-proses tersebut pada umumnya saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Proses-proses pembentukan konsep, pembentukan prinsip, dan pemahaman

merupakan proses-proses pengkonstruksian pengetahuan. Proses-proses pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian merupakan aplikasi konsep, prinsip, dan pemahaman.

Reasoning merupakan bagian berpikir yang berada di atas level retention atau

recall (retensi atau memanggil).

Implikasi konstrukstivisme terhadap pembelajaran adalah:

  • pembelajaran tidak akan berjalan dengan baik, jika peserta didik tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah dengan tingkat pengetahuan yang dimilikinya.
  • Pada akhir proses pembelajaran, peserta didik memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda sesuai dengan kemampuannya.
  • Untuk memutuskan (menilai) keputusannya, peserta didik harus bekerja sama dengan peserta didik yang lain.
  • Guru harus mengakui bahwa peserta didik membentuk dan menstruktur pengetahuannya berdasarkan modalitas belajar yang dimilikinya, seperti bahasa, matematika, musik dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: